Jambi,24 april 2009
dear Angga,
Angga mungkin ketika kau membaca surat ini,diriku tidak lagi berada didekatmu. Aku tak tau apa yang kamu pikirkan. selama ini perlakuanmu padaku begitu baik. sebagai wanita Aku pasti merasa tersanjung dengan perlakuanmu yang begitu baik padaku. saat aku bahagia kau selalu bersamaku dan ketika aku sedihpun kau tetap bersamaku. selama ini Aku menuggumu untuk menyatakan sesuatu. tapi sampai saat ini kau tak juga mengutarakannya padaku. Aku menuggumu Ga.... Aku menantimu.
diriku tak pernah merasa gundah jika kau disampingku. saat kau menhiburku,menghapus lukaku...
sekarang terlambat Ga.... Hatiku telah hancur saat Aku melihat kau bermesraan dengan Rita. aku tak sanggup menghadapi kenyataan bahwa cintaku bertepuk sebelah ini. cintamu telah menjadi jantung dalam tubuhku. aku tak bisa tuk melepaskannya. karena jika Aku melupakanmu, itu sama saja menyopot jantung dalam tubuhku. Aku tak mau hatiku bertambah sakit lagi, untuk itu Aku lebih baik menjauh darimu. agar aku bisa melupakanmu walaupun pahit rasanya.
Eka.....
Air mataku tak terasa mengalir dipipi saat membaca tulisan tangan itu.
" aku pamit Rei..." ucap Angga tergesa-gesa.
" kamu mau kemana Ga..."
" kerumah Eka... kalau Emang dia barusan aja menitipkan surat ini padamu. pasti sekarang dia masih di rumahnya. Aku akan menjelaskan kejadian waktu itu." jelasnya panjang lebar.
" kalau gitu Aku ikut Ga..."
" Ayo lah ..." Ajak Rei derngan cepat sambil menghidupkan motor gedenya itu.
Dengan kecepatan tinggi Angga mengendarai motornya. dengan kecepatan 85km/jam Aku, sungguh.. dalam pikirku, kalau kami jatuh pasti nyawaku langsung melayang. sesampainya dirumah Eka, Aku dan Angga begitu tercengang karna rumah Eka yang biasanya ramai sekarang sepi bagaikan kuburan. beberapa kali kami mengetuk pintu, tapi tak ada seorangpun yang membukakan pintu. pikirku mungkinkah Eka benar-benar pergi dari kota kami. Angga langsung mengfambil Handphonenya dan mencoba menghubungi nomer Eka. tapi Handphonnya juga tak ada jawaban. kemudian ada seorang pria yang memanggil kami.
" ada apa nak... sampai kiamatpun tak ada yang akan membukakan pintu itu.." jelas Bapak itu
" Memang orang yang tinggal disini pada kemana pak...., O ya perkanalkan saya Reifan dan ini teman saya Angga." tanyaku pada bapak itu.
" Saya Pak Bagio, kepala desa disini.... keluarga yang tinggal dirumah itu baru pindah ke Bandung tadi siang nak..., katanya Sich Anaknya mau kuliah disana.. mungkin saja sekarang masih ada di Bandara. " jelas Bapak itu sekali lagi.
" benar itu pak... kalu gitu ayo kita ke Bandara sekarang Rei.." ajak Angga terburu-buru.
" baik lah. terima kasih atas permisinya ya Pak Bagio.." salamku sambil meniggalkan Bapak itu.
kemudian sekali lagi dengan kecepatan tinggi mengendarai motornya langsung menuju bandara. Kami sampai di Bandara Soekarno Hatta tepat saat Pesawat Lion Air terbang. kami sampi sungguh terlambat. seandainya kami datang lebih cepat setidaknya Aku dan Angga bisa mengucapkan kata perpisahan pada Eka.
" Eka mengapa saat tadi kau kerumahku, kamu tidak mengatakan sepatahpun kalau kau ingin pergi.....!" batinku dalam hati.
kulihat Angga duduk dibangku panjang Bandara. meneteskan air mata untuk sekali lagi dan bergumam.
" Eka... Eka... Eka... Maafkan Aku...."
dear Angga,
Angga mungkin ketika kau membaca surat ini,diriku tidak lagi berada didekatmu. Aku tak tau apa yang kamu pikirkan. selama ini perlakuanmu padaku begitu baik. sebagai wanita Aku pasti merasa tersanjung dengan perlakuanmu yang begitu baik padaku. saat aku bahagia kau selalu bersamaku dan ketika aku sedihpun kau tetap bersamaku. selama ini Aku menuggumu untuk menyatakan sesuatu. tapi sampai saat ini kau tak juga mengutarakannya padaku. Aku menuggumu Ga.... Aku menantimu.
diriku tak pernah merasa gundah jika kau disampingku. saat kau menhiburku,menghapus lukaku...
sekarang terlambat Ga.... Hatiku telah hancur saat Aku melihat kau bermesraan dengan Rita. aku tak sanggup menghadapi kenyataan bahwa cintaku bertepuk sebelah ini. cintamu telah menjadi jantung dalam tubuhku. aku tak bisa tuk melepaskannya. karena jika Aku melupakanmu, itu sama saja menyopot jantung dalam tubuhku. Aku tak mau hatiku bertambah sakit lagi, untuk itu Aku lebih baik menjauh darimu. agar aku bisa melupakanmu walaupun pahit rasanya.
Eka.....
Air mataku tak terasa mengalir dipipi saat membaca tulisan tangan itu.
" aku pamit Rei..." ucap Angga tergesa-gesa.
" kamu mau kemana Ga..."
" kerumah Eka... kalau Emang dia barusan aja menitipkan surat ini padamu. pasti sekarang dia masih di rumahnya. Aku akan menjelaskan kejadian waktu itu." jelasnya panjang lebar.
" kalau gitu Aku ikut Ga..."
" Ayo lah ..." Ajak Rei derngan cepat sambil menghidupkan motor gedenya itu.
Dengan kecepatan tinggi Angga mengendarai motornya. dengan kecepatan 85km/jam Aku, sungguh.. dalam pikirku, kalau kami jatuh pasti nyawaku langsung melayang. sesampainya dirumah Eka, Aku dan Angga begitu tercengang karna rumah Eka yang biasanya ramai sekarang sepi bagaikan kuburan. beberapa kali kami mengetuk pintu, tapi tak ada seorangpun yang membukakan pintu. pikirku mungkinkah Eka benar-benar pergi dari kota kami. Angga langsung mengfambil Handphonenya dan mencoba menghubungi nomer Eka. tapi Handphonnya juga tak ada jawaban. kemudian ada seorang pria yang memanggil kami.
" ada apa nak... sampai kiamatpun tak ada yang akan membukakan pintu itu.." jelas Bapak itu
" Memang orang yang tinggal disini pada kemana pak...., O ya perkanalkan saya Reifan dan ini teman saya Angga." tanyaku pada bapak itu.
" Saya Pak Bagio, kepala desa disini.... keluarga yang tinggal dirumah itu baru pindah ke Bandung tadi siang nak..., katanya Sich Anaknya mau kuliah disana.. mungkin saja sekarang masih ada di Bandara. " jelas Bapak itu sekali lagi.
" benar itu pak... kalu gitu ayo kita ke Bandara sekarang Rei.." ajak Angga terburu-buru.
" baik lah. terima kasih atas permisinya ya Pak Bagio.." salamku sambil meniggalkan Bapak itu.
kemudian sekali lagi dengan kecepatan tinggi mengendarai motornya langsung menuju bandara. Kami sampai di Bandara Soekarno Hatta tepat saat Pesawat Lion Air terbang. kami sampi sungguh terlambat. seandainya kami datang lebih cepat setidaknya Aku dan Angga bisa mengucapkan kata perpisahan pada Eka.
" Eka mengapa saat tadi kau kerumahku, kamu tidak mengatakan sepatahpun kalau kau ingin pergi.....!" batinku dalam hati.
kulihat Angga duduk dibangku panjang Bandara. meneteskan air mata untuk sekali lagi dan bergumam.
" Eka... Eka... Eka... Maafkan Aku...."
sok dramatis banget.........
BalasHapus