Daftar Blog Saya

Senin, 05 Maret 2012

Ketika Karung Bersaksi


Bulan sabit masih terlihat namun agak condong kearah barat. Bintang-bintang kecil yang bersinar mulai menghilang satu persatu, mereka bersembunyi seakan takut dengan sinar matahari yang akan menggantikan bulan. Sinar matahari yang kemerahan mulai tampak dari ufuk timur. Kesunyian malam akan tergantikan oleh keriuhan siang, semuanya itu menunjukkan bahwa roda kehidupan terus berputar, tak ada yang abadi.
Dinginnya malam masih terasa. Pagi ini setelah bangun aku langsung menuju kekamar mandi. Air yang berada didalam bak mandi terasa seperti air es. Perlahan kusiramkan air yang dingin itu keseluruh badanku. Brrr, dinginnya sempat terasa sampai tulang sumsumku.
Setelah ritual membersihkan badanku selesai, aku langsung mengenakan pakaian seragam putih abu-abu. Dengan menggunakan dasi yang kupasang rapi di leher. Hari ini adalah hari senin, nanti diMadrasah pasti ada upacara bendera, jadi aku harus ekstra lebih cepat agar tidak terlambat sampai diMadrasah. Setelah persiapan semua selesai aku langsung berangkat dengan menggunakan sepeda motor. Tak  lupa aku pergi kerumah Kak Ryo. Ya hari ini aku, Kak Ryo dan Rio sudah janjian untuk berangkat keMadrasah bersama dengan menggunakan satu sepeda motor. Aku dan Rio adalah siswa disalah satu Madrasah Aliyah Negeri dikota jambi, sedangkan Kak Ryo adalah pegawai tata usaha disana. Walau bukan siswa disana aku dan Rio bersahabat dengan Kak Ryo. Sudah lama kami bersabat bertiga. Hingga kami bertiga memiliki nama bersama, yaitu double_R&M.
Dasi sudah terpasang rapi dileher, kini tinggal sepatu yang belum kupasang. Dengan tergesa-gesa Aku memasang sepatu. Mengikat simpul kedua tali secara super cepat. Tiba-tiba handphone di saku celanaku berbunyi. Satu  pesan masuk dari Kak Ryo.
“ Mul, jadi berangkat bareng? Kalau jadi jemput kakak sekarang !”
Ku balas singkat.
“ Jadi kak, tunggu sebentar lagi !”
Sepeda motor ku pacu dengan kecepatan tinggi, menyalip setiap kendaraan lain yang lalu lalang dijalan raya. Rem di pijak, ban mendesit diaspal, motor kuhentikan tepat didepan lorong rumah Rio. Anak-anak berseragam putih merah menyeberang, remaja berseragam putih biru berjalan berbondong-bondong menuju gerbang sekolah yang ada diujung lorong, bapak-bapak usia setengah baya yang menjajakan makanan kecil dikerumuni pembeli. Hampir lima menit aku dan Kak Ryo menunggu barulah Rio tampak keluar dari lorong rumahnya dengan menggunakan sepeda motor yang dikendarai oleh adiknya.
“ Woi, tunggu bentar! Ikut aku dulu sebentar !” panggil Rio, motornya masih melaju dengan kecepatan pelan menuju kesebuah rumah kecil tempat menjahit pakaian.
“ Kemano yo..? jawabku lancing sambil memutar motor dan mengikutinya dari belakng.
“ Tunggu ya! Aku jahitin celanaku yang robek dulu!” ujar Rio sambil melepaskan celana abu-abunya. Dia tak ada rasa malu kana didalamnya memakai celana pendek sepanjang lutut. Ibu-ibu tukang jahit itu langsung menerima celana yang diberikan Rio dan segera memperbaikinya. Adik Rio yang memakai seragam putih biru memutar motor dan pergi ke sekolahnya sambil tersenyum kecil.
“ Kamu bawak sweater atau tidak Mul?” Tanya Kak Ryo padaku sambil memakai sweaternya, percis sama dengan milik Rio dan Aku. Memang sweater itu kami beli sama tiga buah Cuma beda warna saja. Punya Kak Ryo berwarna hitam putih, dan yang sedang dipakai Rio berwarna abu-abu putih sedang milikku sendiri berwarna abu-abu hitam.
“ Aduh kak, Ketinggalan dirumah !!!” jawabku sambil memeriksa isi tas.
“ Emanglah kamu ni Mul, Kakak dan Rio pake nah. Ambil sana dirumah sekalian nunggu jahitan celana Rio selesai!”
“ Iya Kak, tunggu disini ya!” kuhidupkan sepeda motor dan kembali kerumah untuk mengambil sweater kebanggaan kami bertiga. Motor ku pacu dengan kecepatan standar. Sampai dirumah aku berlari masuk kekamar dan menggeleda isi lemari. Yap, ketemu, sweater belang abu-abu hitam terlipat rapi dalam lemari dan segera kupakai. Setelah selesai aku langsung kembali ketempat Rio menjahit celana dengan kecepatan ekstra cepat.
Sampai dirumah penjahit Kak Ryo dan Rio sudah menunggu. Celana Rio yang robek sudah diperbaiki. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.18 WIB. Sah, kami bertiga pasti telat. Tanpa menunggu lama Kak Ryo dan Rio menaiki sepeda motor yang aku kendarai. Kak Ryo yang badannya agak lebih besar duduk dipaling belakang dan Rio duduk ditengah-tengah.
Memang badanku lebih kecil jika dibanding mereka berdua, tapi aku lebih paham mengendarai sepeda motor apalagi dengan membonceng dua orang begini. Sepeda motor terasa melayang, tak ayal lari kesisi kanan dan kiri jalan. Kami bertiga menjadi pusat perhatian orang dijalan. Satu motor dinaiki tiga orang yang memakai sweater sama seperti narapidana yang baru keluar dari penjara.
Motor yang kukendarai semakin ku tambah kecepatan. Telat dan terlambat. Pasti aku telat. Mengingat hari senin pasti lebih cepat masuk karna upacara bendera.  Kaki berpijak pada rem, ban berdesit di aspal, kami bertiga sampai didepan gerbang Madrasah. Upacara bendera telah dimulai, sang merah putih itu telah berkibar setengah tiang. Diiringi lagu Indonesia Raya membuat khidmat para peserta upacara, menambah rasa Nasionalisme.
Aku dan Rio bergegas masuk barisan paling belakang. Yah, tidak bergabung dengan barisan lain, tapi membuat barisan baru khusus bagi siswa yang terlambat. Bapak Wakil Kepala Madrasah bidang kesiswaan berdiri dibelakang barisan. Mengawasi setiap siswa yang datang terlambat.
“ Bubar barisan jalan!” suara lantang sang komandan upacara membubarkan para peserta upacara. Serentak para peserta upacara bubar bagai anak ayam. Pembina upacara dan majelis Guru meninggalkan lapangan upacara.
Naas, kami yang datang terlambat tidak diizinkan masuk kedalam kelas, tetapi harus berbaris ditengah lapangan menghadap tiang bendera. Kuhitung sekitar lima belas siswa yang terlambat. Untung saja bukan aku sendiri yang terlambat, bisa-bisa malu aku dibuatnya. Bapak Pembina pramuka menyuruh kami semua hormat kepada tiang bendera. Suara Bapak yang khas membentak-bentak memarahi kami satu persatu.
“ Kamu tahu tidak kalau hari ini kamu Try Out? Kenapa datang terlambat?” bentak Bapak Pembina pramuka itu pada salah satu teman sekelasku, tangannya menunjuk ke bebrbagai arah. Temanku itu hanya bisa mengnggukkan kepala.
Tanganku sudah muai terasa pegal, kaki terasa kaku. Baru kali ini aku terlambat dan kena hokum begini. Didalam kelas teman-teman yang tidak terlambat sudah memualai pelajaran dan bagi kelas XII sedang melakukan ujian Try Out. “ Aduh, mimpi apa semalam sampai kena hukum begini, padahal sedang Try Out begini!” ocehku dalam hati.
Tiba-tiba  salah seorang guru perempuan datang dengan membawa agenda besar. Badannya tinggi dan memakai kacamata, ia adalah guru yang sedikit ditakuti oleh para siswa. Tapi bagiku ibu itu baik karna peduli dengan siswanya. Ibu itu mendata setiap siswa yang terlambat.
“ Bagi kalian yang terlambat besok harus membawa lima karung ke Madrasah!” bentak ibu itu dengan nada tinggi.
Aku terkejut dan sedikit merasa aneh. Aduh kok terlambat harus membawa karung? Untuk apa emang.
“ Kalau tidak bawa bagaimana bu?” salah seorang siswa bertanya. Dia berbaris dipaling ujung. Rambutnya sedikit ikal, badannya tinggi.
“ Kalau besok tidak bawa! Ditambah menjadi sepuluh untuk lusa. Dan kalu tidak bawa maka ditambah lagi menjadi lima belas paham!” jelas Ibu berkacamata itu, tangan kanannya menunjuk kearah atas.
Aku bingung, kata-kata dari Bu Guru itu kurang sedikit bisa aku cerna dengan baik. Menelaah setiap kata-kata yang telah aku dengar. Lima karung untuk besok pagi dan akan bertambah satu kali lipat berarti akan menjadi sepuluh, lima belas dan akan lebih banyak lagi jika kau tak membawa karung itu.
Keesokan harinya aku dan Rio pergi ke Madrasah dengan membawa lima buah karung akibat hukuman kami yang terlambat datang kemarin. Yah, memang sedikit aneh. Satu kali terlambat berarti sama dengan lima buah karung. Hukuman itu memang tidak ada di Madrasah manapun kecuali di Madrasah ku ini, karung-karung itu juga nantinya akan berguna untuk mengumpulkan sampah yang dihasilkan oleh makanan-makanan ringan yang kami buat. Karung-karung itu nantinya juga bermanfaat bagi kami. Karung-karung itu juga untuk kebersihan lingkungan Madrasah kami. Inilah Madrasahku, Madrasah tempatku menuntu ilmu.

Rabu, 19 Oktober 2011

Senin, 29 Juni 2009

Jumat, 08 Mei 2009

Cinta Diantara Persahabatan Part 8

Semenjak perkenalanku dengan Andi perasaanku semakin kacau.Aku juga tak menyangka, orang yang dikenalkan Anna kemarin adalah Andi kekasihnya. bagaimana hatiku tak begitu hancur. Rasanya hatiku sungguh sakit sekali. hari ini pun aku tak begitu semangat, walaupun hari ini hari pertamaku masuk kuliah semenjak liburan semester. matahari bersinar cerah. tampak para mahasiswanya berbondong-bondong memasuki halaman Universitas Tehknologi Komputer atau yang biasa disingkat UniTeK. Aku melangkah berssama dengan mahasiswa lain. Aku berjalan menuju bangku panjang kecil yang ada di bawah pohon halaman kampus. di bangku itu tempat biasa Aku,Eno,Angga,Eka dan Siska ngumpul jika tak ada mata kuliah.tapi beberapa hari bahkan minggu ini berubah.apalagi semenjak kepergian Eka.sedangkan Samy,Rita dan Anna sibuk dengan sekolahnya.maklumlah mereka masih duduk dibangku SMA.lama Aku duduk dibangku tak ada sedikitpun Aku melihat batang hidung Angga,Eno dan siska...kemana sih mereka.apa jangan - jangan mereka gak datang yah.kalo begini bisa boring deh.tak lama kemudian Siska menghampiriku.
" Sis... kok lama banget datangnya... Aku aja yang naek angkot udah dari tadi nyampe... "
" Aku sebenernya meles banget dateng Rei... gi pula ne kan hari pertama,paling gak ada mata kuliah..." ujar Siska
" o ya... Eno sama Angga kemana ya.. dari tadi Aku gak ngeliat mereka. "
" Angga sih Aku tak tau menau,dari kemaren aja Aku gak tau kabarnya. "
" kalo Eno Sis....?"
" Dia lagi nganter Ibunya ke rumah tantenya..!!" jelas Siska.
" trus kita ngapaen neh,,,, "
" kekantin aja yuck...!!" ajak Siska
" ah.. males ah Sis... enak kita ke Perpustakaan aja."
" Rei... ayolah... pasti kamu gak ada uang,tenang aja deh, Siska gitu loh, biar Aku aja yang bayar"
ajak Siska sekali lagi.seperti biasanya dia selalu mentraktir Aku,kadang Aku merasa gak enak kalau harus di bayarin sama dia.tapi kalau kemauannya gak di turutin pasti dia marah.
" ya udah deh... baiklah kalau begitu."
" gitu donk,kamu pake malu - malu segala." sindir Siska sambil menarikku menuju kantin.

Kamis, 30 April 2009

Cinta Diantara Persahabatan Part 7

Setalah beberapa menit Aku sampai halaman Rita. Suasananya terlihat sepi. seperti kuburan saja.  padahal biasanya kan ada teman-teman. Aku mencoba menghubungi Rita, tapi tut...tut... tak ada jawaban sedikitpun. lalu Aku sms Samy.
" Sam.... kamu dimana...?"
kemudian Samy membalas.
" Aku sedang dirumah pacarku Irma. emang ada apa Rei.."
mengetahui Samy dirumah kekasihnya, Aku langsung membalas.
" Gak kok Sam... sorry Aku mengganggu waktumu. thanx.."
Aku sedikit bingung. harus kemana nih. kalau pulang nanti pasti ketemu Dewi didepan rumahnya. Aku kan gak enak. tapi moga aja Dia lagi ada di dalam rumah. kemudian Aku langsung kembali lagi kerumah. AKu menyepatkan langkahku begitu lewat di depan halaman rumah Dewi. sebenarnya sich Aku pingin ngobrol dengan Dewi lebih panjang lebar lagi dari yang tadi. tapi sekarang ini Aku belum siap.
Keesokan harinya sekitar Pukul 12:30 WIB. Rita sms Aku.
" Rei,, kerumahku sekarang yach..."
Aku membalas.
" Emang ada apa Rit... penting gak...?"
Tak lama smsku terkirim Rita membalas lagi.
" Kayaknya penting.. hehehe... tapi Kamu kesini aja."
Aku sedikit ragu untuk pergi kesana. kemudian Aku menulis pesan lagi.
" Disana ada siapa saja Rit..." tanyaku melalui sms.
kemudian Rita membalas lagi. emang kalau urusan sms_an atau chattingan Rita rajanya.
" biasalah Rei... temen-temen ada kok. Samy, Eno, Anna n yang laen. tapi Annga gak Ada."
membaca sms dari Rita Aku sedikit gembira, kalu ada Anna pasti Aku betah tiap ghari kerumah Rita. walaupun harus menginap. kemudian Aku bersiap-siap. dan langsung meluncur menuju rumah Rita. sebelim pergi Aku sempatkan diri untuk mengirim pesan ke Rita.
" oke deh Rit... Aku ke rumahmu sekarang."
Beberapa menit kemudian Aku sampai dihalaman Rumah Rita. tapi untung saja tadi sewaktu lewat depan rumah Dewi dia tak ada di luar halaman. kalau ada pasti Aku diajak ngobrol sama Dia. Bukannya Aku tak mau, Tapi kapan-kapan aja. lagian sekarang ini Aku sedikit segan untuk dekat dengannya. Dia kan anak pesantren. pasti ilmu Agamanya tinggi dibandingkan Aku.
dan tepat sampai didepan pintu rumah Rita, belum sempat Aku mengetuk pintu Rita sudah membukakan pintu untukku.
" loh Rit... Aku belum mengetuk pintunya, kok kamu tau Aku sudah sampai."
" Reifan... Reifan... Aku kan lihat Kamu dari jendela, cepat masuk temen-temen sudah didalam tuh."
Aku lihat dikursi ada Siska sama Eno yang asik ngobrol berdua, sementara Samy asik dengerin musik. yang tak kulihat Anna dan Angga. tadi Rita sms Aku katanya Anna sudah ada disini, tapi kok gak ada. kalau Aku bertanya soal Anna pasti temen-temen kalu Aku masih sayang banget sama dia. padahal mereka menyuruh Aku melupakannya. daripada mereka curiga lebih baik Aku bertanya mengenai Angga aja.
" oya dari tadi Aku gak ngelihat Angga. kemana dia."
" gak tau juga Rei, beberapa hari ini kayaknya dia sibuk." jawab Eno.
" iya Rei... kemarin Aku kerumahnya, tapi kata ibunya dia sedang ngerjai tugas kuliahnya." jelas Samy.
" o ya udah lah... lagi pula sebentar lagi Dia kan Ujian semester. emang kalian gak coba  menghubunginya." tanyaku sekali lagi.
" sudah Rei... tapi lo tau sendirikan Angga kalau lagi sibuk, dia gak mau diganggu." ujar siska.
" oo... ya juga ya..."
" kok Anna lama banget ya..." ucap Rita.
" sms aja Rit..." jawab Siska spontan.
Aku sedikit bingung, kok Anna malah belum datang, Ah,,,, tadi pasti Rita ngerjain Aku.
" Oya Rei... Kamu sudah kenal Andi belum..." tanya Samy padaku.
" belum Sam... Aku sih tau, Dia Adiknya Yu Ani kan."
" Iya... kok Kamu tau."
" kalau itu sih Aku tau, tapi Aku belum pernah ketemu langsung dengannya. emang kenapa..?"
" ini.. ntar Anna mau ngenalin Andi ke kita-kita."
Ngenalin Kami dengan Andi.apa jangan-jangan Andi dan Anna sudah pacaran. Aku harus gimana nich. gak mungkin Aku bisa menahan rasa cemburuku bila Aku melihat Anna dengan Pria lain.tapi bagaimana. AKu bingung harus gimana nich. apa harus marah, apa harus benci. setalah Aku,Siska,Eno,Samy, dan Rita bincang panjang lebar, Samy yang bercerita tentang pacar barunya dan Aku yang menceritakan tantang Dewi, barulah terdengar suara suara pintu yang di ketuk. Aku sudah menduga pasti itu Anna. karena yang sedang kami tunggu adalah Dia. perasannku semakin bingung.
" nah itu pasti Anna.. biar Aku bukakan pintu ya." ucap Rita sambil melangkah menuju pintu.
kemudian mereka masuk secara bersamaan. Aku lihat seorang Pria yang berjalan dibelakang Anna dan Rita. Dengan rambut cepak dan kacamata bening. mata coklat dan kulit sawo matang. itu pasti Andi. walau Aku belum pernah bertemu dengannya tapi Aku sudah bisa menebaknya. karena wajahnya sangat mirip dengan Ayu Ani.
" seh,,, yang punya gebetan baru,,, siapa tuh An..." ledek Siska.
" oh.. ini Andi... kenalin semuanya." jawab Anna.
benar sekali dugaanku tadi, Pria itu memang benar Andi. walaupun hatiku begitu tersayat. dengan berat hati Aku mengulurkan tanganku pada Pria itu.
" Reifan." Ucapku sambil mengulurkan tanganku.
" Andi." jawabnya sambil mengulurkan tangannya padaku.