Bulan sabit masih terlihat
namun agak condong kearah barat. Bintang-bintang kecil yang bersinar mulai
menghilang satu persatu, mereka bersembunyi seakan takut dengan sinar matahari
yang akan menggantikan bulan. Sinar matahari yang kemerahan mulai tampak dari
ufuk timur. Kesunyian malam akan tergantikan oleh keriuhan siang, semuanya itu
menunjukkan bahwa roda kehidupan terus berputar, tak ada yang abadi.
Dinginnya malam masih
terasa. Pagi ini setelah bangun aku langsung menuju kekamar mandi. Air yang
berada didalam bak mandi terasa seperti air es. Perlahan kusiramkan air yang
dingin itu keseluruh badanku. Brrr, dinginnya sempat terasa sampai tulang
sumsumku.
Setelah ritual
membersihkan badanku selesai, aku langsung mengenakan pakaian seragam putih
abu-abu. Dengan menggunakan dasi yang kupasang rapi di leher. Hari ini adalah
hari senin, nanti diMadrasah pasti ada upacara bendera, jadi aku harus ekstra
lebih cepat agar tidak terlambat sampai diMadrasah. Setelah persiapan semua
selesai aku langsung berangkat dengan menggunakan sepeda motor. Tak lupa aku pergi kerumah Kak Ryo. Ya hari ini
aku, Kak Ryo dan Rio sudah janjian untuk berangkat keMadrasah bersama dengan
menggunakan satu sepeda motor. Aku dan Rio adalah siswa disalah satu Madrasah Aliyah
Negeri dikota jambi, sedangkan Kak Ryo adalah pegawai tata usaha disana. Walau
bukan siswa disana aku dan Rio bersahabat dengan Kak Ryo. Sudah lama kami
bersabat bertiga. Hingga kami bertiga memiliki nama bersama, yaitu double_R&M.
Dasi sudah terpasang
rapi dileher, kini tinggal sepatu yang belum kupasang. Dengan tergesa-gesa Aku
memasang sepatu. Mengikat simpul kedua tali secara super cepat. Tiba-tiba
handphone di saku celanaku berbunyi. Satu
pesan masuk dari Kak Ryo.
“ Mul, jadi berangkat
bareng? Kalau jadi jemput kakak sekarang !”
Ku balas singkat.
“ Jadi kak, tunggu
sebentar lagi !”
Sepeda motor ku pacu
dengan kecepatan tinggi, menyalip setiap kendaraan lain yang lalu lalang
dijalan raya. Rem di pijak, ban mendesit diaspal, motor kuhentikan tepat
didepan lorong rumah Rio. Anak-anak berseragam putih merah menyeberang, remaja
berseragam putih biru berjalan berbondong-bondong menuju gerbang sekolah yang
ada diujung lorong, bapak-bapak usia setengah baya yang menjajakan makanan
kecil dikerumuni pembeli. Hampir lima menit aku dan Kak Ryo menunggu barulah Rio
tampak keluar dari lorong rumahnya dengan menggunakan sepeda motor yang
dikendarai oleh adiknya.
“ Woi, tunggu bentar!
Ikut aku dulu sebentar !” panggil Rio, motornya masih melaju dengan kecepatan
pelan menuju kesebuah rumah kecil tempat menjahit pakaian.
“ Kemano yo..? jawabku
lancing sambil memutar motor dan mengikutinya dari belakng.
“ Tunggu ya! Aku
jahitin celanaku yang robek dulu!” ujar Rio sambil melepaskan celana
abu-abunya. Dia tak ada rasa malu kana didalamnya memakai celana pendek
sepanjang lutut. Ibu-ibu tukang jahit itu langsung menerima celana yang
diberikan Rio dan segera memperbaikinya. Adik Rio yang memakai seragam putih
biru memutar motor dan pergi ke sekolahnya sambil tersenyum kecil.
“ Kamu bawak sweater
atau tidak Mul?” Tanya Kak Ryo padaku sambil memakai sweaternya, percis sama
dengan milik Rio dan Aku. Memang sweater itu kami beli sama tiga buah Cuma beda
warna saja. Punya Kak Ryo berwarna hitam putih, dan yang sedang dipakai Rio
berwarna abu-abu putih sedang milikku sendiri berwarna abu-abu hitam.
“ Aduh kak, Ketinggalan
dirumah !!!” jawabku sambil memeriksa isi tas.
“ Emanglah kamu ni Mul,
Kakak dan Rio pake nah. Ambil sana dirumah sekalian nunggu jahitan celana Rio
selesai!”
“ Iya Kak, tunggu
disini ya!” kuhidupkan sepeda motor dan kembali kerumah untuk mengambil sweater
kebanggaan kami bertiga. Motor ku pacu dengan kecepatan standar. Sampai dirumah
aku berlari masuk kekamar dan menggeleda isi lemari. Yap, ketemu, sweater
belang abu-abu hitam terlipat rapi dalam lemari dan segera kupakai. Setelah
selesai aku langsung kembali ketempat Rio menjahit celana dengan kecepatan
ekstra cepat.
Sampai dirumah penjahit
Kak Ryo dan Rio sudah menunggu. Celana Rio yang robek sudah diperbaiki. Waktu
sudah menunjukkan pukul 07.18 WIB. Sah, kami bertiga pasti telat. Tanpa
menunggu lama Kak Ryo dan Rio menaiki sepeda motor yang aku kendarai. Kak Ryo
yang badannya agak lebih besar duduk dipaling belakang dan Rio duduk
ditengah-tengah.
Memang badanku lebih
kecil jika dibanding mereka berdua, tapi aku lebih paham mengendarai sepeda
motor apalagi dengan membonceng dua orang begini. Sepeda motor terasa melayang,
tak ayal lari kesisi kanan dan kiri jalan. Kami bertiga menjadi pusat perhatian
orang dijalan. Satu motor dinaiki tiga orang yang memakai sweater sama seperti
narapidana yang baru keluar dari penjara.
Motor yang kukendarai
semakin ku tambah kecepatan. Telat dan terlambat. Pasti aku telat. Mengingat
hari senin pasti lebih cepat masuk karna upacara bendera. Kaki berpijak pada rem, ban berdesit di
aspal, kami bertiga sampai didepan gerbang Madrasah. Upacara bendera telah
dimulai, sang merah putih itu telah berkibar setengah tiang. Diiringi lagu
Indonesia Raya membuat khidmat para peserta upacara, menambah rasa Nasionalisme.
Aku dan Rio bergegas
masuk barisan paling belakang. Yah, tidak bergabung dengan barisan lain, tapi
membuat barisan baru khusus bagi siswa yang terlambat. Bapak Wakil Kepala Madrasah
bidang kesiswaan berdiri dibelakang barisan. Mengawasi setiap siswa yang datang
terlambat.
“ Bubar barisan jalan!”
suara lantang sang komandan upacara membubarkan para peserta upacara. Serentak
para peserta upacara bubar bagai anak ayam. Pembina upacara dan majelis Guru
meninggalkan lapangan upacara.
Naas, kami yang datang
terlambat tidak diizinkan masuk kedalam kelas, tetapi harus berbaris ditengah
lapangan menghadap tiang bendera. Kuhitung sekitar lima belas siswa yang
terlambat. Untung saja bukan aku sendiri yang terlambat, bisa-bisa malu aku
dibuatnya. Bapak Pembina pramuka menyuruh kami semua hormat kepada tiang
bendera. Suara Bapak yang khas membentak-bentak memarahi kami satu persatu.
“ Kamu tahu tidak kalau
hari ini kamu Try Out? Kenapa datang terlambat?” bentak Bapak Pembina pramuka
itu pada salah satu teman sekelasku, tangannya menunjuk ke bebrbagai arah.
Temanku itu hanya bisa mengnggukkan kepala.
Tanganku sudah muai
terasa pegal, kaki terasa kaku. Baru kali ini aku terlambat dan kena hokum
begini. Didalam kelas teman-teman yang tidak terlambat sudah memualai pelajaran
dan bagi kelas XII sedang melakukan ujian Try Out. “ Aduh, mimpi apa semalam
sampai kena hukum begini, padahal sedang Try Out begini!” ocehku dalam hati.
Tiba-tiba salah seorang guru perempuan datang dengan
membawa agenda besar. Badannya tinggi dan memakai kacamata, ia adalah guru yang
sedikit ditakuti oleh para siswa. Tapi bagiku ibu itu baik karna peduli dengan
siswanya. Ibu itu mendata setiap siswa yang terlambat.
“ Bagi kalian yang
terlambat besok harus membawa lima karung ke Madrasah!” bentak ibu itu dengan
nada tinggi.
Aku terkejut dan
sedikit merasa aneh. Aduh kok terlambat harus membawa karung? Untuk apa emang.
“ Kalau tidak bawa
bagaimana bu?” salah seorang siswa bertanya. Dia berbaris dipaling ujung.
Rambutnya sedikit ikal, badannya tinggi.
“ Kalau besok tidak
bawa! Ditambah menjadi sepuluh untuk lusa. Dan kalu tidak bawa maka ditambah
lagi menjadi lima belas paham!” jelas Ibu berkacamata itu, tangan kanannya
menunjuk kearah atas.
Aku bingung, kata-kata
dari Bu Guru itu kurang sedikit bisa aku cerna dengan baik. Menelaah setiap
kata-kata yang telah aku dengar. Lima karung untuk besok pagi dan akan
bertambah satu kali lipat berarti akan menjadi sepuluh, lima belas dan akan
lebih banyak lagi jika kau tak membawa karung itu.
Keesokan harinya aku
dan Rio pergi ke Madrasah dengan membawa lima buah karung akibat hukuman kami
yang terlambat datang kemarin. Yah, memang sedikit aneh. Satu kali terlambat
berarti sama dengan lima buah karung. Hukuman itu memang tidak ada di Madrasah
manapun kecuali di Madrasah ku ini, karung-karung itu juga nantinya akan
berguna untuk mengumpulkan sampah yang dihasilkan oleh makanan-makanan ringan
yang kami buat. Karung-karung itu nantinya juga bermanfaat bagi kami.
Karung-karung itu juga untuk kebersihan lingkungan Madrasah kami. Inilah
Madrasahku, Madrasah tempatku menuntu ilmu.